<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/17530985?origin\x3dhttp://hykelrasta.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Tuesday, September 05, 2006


--


Terkadang masa
menikam dan terus berlalu pergi
Meninggal kan sisa
dan membuka seribu luka di hati
Walau ku cuba
hindarkan sesal di dada
Kesilapan lalu
menghantui diri ku

Segala yang indah
sering menemani ruang sepi ku
Senyum dan tawa mu
masih jelas terbayang di mata ku
Kini semuanya
menjadi kenangan silam
Sesal hati dirundung
kecewa

*Aku....
tak pernah menduga
Begini hebatnya
duka lara bila berakhirnya cinta
Mengapa sukar untuk ku melupakan mu
Namun mudahnya kau
membenci diri ini

Apalah gunanya
ku terus mencari kesilapan diri
Sedang kau tak pernah
ingin mengerti perasaan di hati
Pernah kah kau rasa
hangatnya genangan
Air mataku yang tak mungkin mengalir

Sungguh aku tak
pernah mengerti
Mengapa semua harus begini
Seribu luka
kesal dihati

Betapa ku kesal
biar ku
sendiri



| name fought for sanity @ 9:24 PM|

__________